Monday, April 13, 2015

Mencumbu Kembang Air di Curug Pengantin Kalipagu

Foto di Curug Pengantin Kalipagu, Baturraden
    Langit terlihat cerah. Saya dan delapan kawan menduga tidak bakal turun hujan. Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB lebih 2 menit. Biyunge*, begitu kami memanggil, sibuk membalikkan gorengan bakwan dan tahu isi di wajan besar. Ia cukup senang dengan kehadiran kami. Di antara kami memang sudah sering ke warungnya di pinggir hutan perbukitan Kalipagu, Baturraden, Banyumas. Jadi, ada beberapa yang sudah saling mengenal. 

     Warung sederhana Biyunge yang berada dekat dengan gorong-gorong besar air PDAM sontak penuh canda tawa sejak kedatangan kami. Mendoan, bakwan, dan tahu isi goreng perlahan hilang di loyang masuk ke perut kawan-kawan saya yang belum sarapan. Kopi susu dan kopi hitam pun mendampingi sarapan kami sehingga  menambah kenikmatan menjelang siang sebelum ke Curug Pengantin.

    Suara burung dari hutan lembah masih nyaring terdengar. Kami berniat memulai perjalanan ke Curug Pengantin yang konon belum banyak orang tahu keberadaannya, termasuk kami. Satu kawan saya berujar: sekali pernah menempuh ke curug tersebut, namun gagal di pertengahan jalan karena salah jalur. Kami pun bimbang sesaat sebab belum ada di antara kami yang paham jalurnya. Biyunge kemudian memanggilkan salah satu keluarganya untuk mengantarkan kami ke curug yang masih sangat alami itu. Setelah negoisasi masalah 'uang lelah', kami pun akhirnya berangkat dengan bekal air minum secukupnya.

    Kami menelusuri jalanan setapak ke arah timur menuju PLTA Ketenger, Baturraden. Di sepanjang jalan ditemui muda-mudi yang sedang memadu kasih dan kelompok pecinta alam seumuran SMA yang sedang beraktivitas hiking. Di lembah bukit, masih terdapat petak-petak sawah, dan terlihat beberapa petani sedang membuang letih sambil menikmati hempasan angin. 

    Beranjak siang, udara terasa panas, saya pun melepas sweater, lalu digunakan untuk menutupi kepala dari terik matahari. Awal jalan kami terasa cepat, mungkin karena tenaga masih penuh berkat sarapan.

    Tepat ketika mendapati kelokan, menyeberangi jembatan di samping kantor PLTA Ketenger, kami berbelok ke utara dan mulai masuk menembus hutan. Jalanan pun menanjak dan licin. Di samping kiri dan kanan hanya tumbuhan liar, selain itu beberapa pohon bambu juga masih kami temui. Setiap jalanan yang menanjak ternyata sudah dipasang topangan batang bambu untuk menahan kaki agar tidak terpeleset dan tanah tidak gugur. Sepanjang saya mengamati, pemandangan bukit-bukit hijau dan kokohnya Gunung Slamet jauh di depan mata sangatlah memikat hati. Untuk melupakan lelah, kawan-kawan saya terus bercanda sepanjang jalan.

    Perjalanan kami terhenti sejenak ketika menjumpai sebuah makam di sebuah rumah kecil yang nampak usang. Pemandu kami masuk ke dalam rumah makam tersebut. "Sekedar minta izin sebagai tata krama saja," ujar pemandu kami setelah keluar. Di antara kami tidak ada yang menanyakan lebih jauh makam tersebut, pemadu kami pun langsung melanjutkan perjalanan kembali dan kami cuma mengikuti dari belakang. Kini, perjalanan dilanjutkan dengan masih mendaki dan menuruni bukit, lalu menyeberangi beberapa sungai kecil dengan air yang dingin dan sangat jernih.

    Setelah kurang lebih menepuh perjalanan 1 setengah jam, kami pun bersuka ria saat mendapati deru air terjun. Artinya, hanya tinggal beberapa langkah lagi kami sampai di Curug Pengantin. Untuk sampai ke bawah air terjun, kami harus melewati jalan yang menurun dan licin. Kami pun turun dengan merayap-rayap. Sungguh, lelah kami terbayar oleh keindahan Curug Pengantin yang mempunyai dua buah air terjun itu.

    Tebing menjulang tinggi dan kokoh di atas kami. Kembang-kembang air akibat benturan air dari atas ke bawah bisa kami rasakan hingga jarak kurang lebih sepuluh meter. Suasana sekitar seperti diselimuti embun yang tebal. Kami bagaikan mencumbu kembang-kembang air yang memucrat dari bawah air terjun. Badan saya pun lekas menggigil karena dinginnya air dan udara di lokasi. Kawan-kawan saya cepat-cepat melucuti pakainnya agar bisa mandi dan berendam di pinggiran air terjun. Kami pun mengabadikan diri dengan berfoto bersama dan ada pula yang selfie.

    Curug yang saya taksir mempunyai ketinggian kurang lebih 500 meter ini terus memikat kami untuk bermain-main dan menghabiskan waktu menikmati alam. Setengah jam kami berada di Curug Pengantin, membasihi diri, dan merelakan dingin menembus kulit kami. Akhirnya kami putuskan untuk pulang ketika dirasa puas mencumbui kembang-kembang air dan waktu pun beranjak sore. Kami pun pulang dengan melewati dan menelusuri jalan yang sama. Berbeda sewaktu berangkat, jalan pulang adalah jalan yang menurun, dimana kaki kami bertugas menjaga keseimbangan badan. Beberapa kali saya sempat terpeleset akibat sandal dan tanah yang licin di jalan curam.

    Akhirnya kami berhasil singgah dan bermain di curug yang menurut pemandu kami baru ditemukan sekitar empat bulan yang lalu. Di Banyumas sendiri, menurut salah satu kawan saya, terdapat beberapa curug yang juga dinamakan 'pengantin'. "Nama 'pengantin'," ujar kawan saya, "biasanya dilekatkan kepada curug yang memiliki dua air terjun, berjejer, mungkin itulah yang dikira seperti pengantin," tambahnya.

    Curug Pengantin di wilayah Dusun Kalipagu, Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah, masih sangat alami dan eksotis. "Curug tersebut menawarkan panorama yang masih sangat alami dan bersih," kata si pemandu diakhir pertemuan dan perjalanan kami pada Minggu, 12 April 2015.

Catatan kaki:
*Biyunge, bahasa Banyumasan, adalah sebutan untuk Ibu. Sapaan ini akrab digunakan kawan-kawan saya untuk memanggil penjual gorengan, minuman dan lainnya di pinggiran hutan Dusun Kalipagu.

Baca juga:
Comments
1 Comments

1 comment:

  1. makin keren curugnya nih,, tapi itu sudah diketahui dari tahun 2013 loh mas..
    Tetap menjaga kebersihan curug ini ya,, semoga nanti dapat dinikmati generasi mendatang

    ReplyDelete