Wednesday, December 31, 2014

3 Metode Ulama Agar Pikiran Cerdas

Ilustrasi
     Memiliki pikiran cerdas adalah harapan semua orang. Sejatinya, semua manusia dikarunia kecerdasan. Hanya saja, seberapa sering orang melatih kecerdasan bawaannya. Semakin otak sering dilatih, maka kecerdasan akan makin nampak, sebaliknya bila otak jarang dilatih akan tumpul. Jadi, hakikatnya tidak ada manusia bodoh di dunia ini, cuma manusia yang tidak pernah memakai kecerdasannya.

    Kecerdasan terdiri 2 bagian, yakni kecerdasan kognitif dan kecerdasan non-kognitif. Dari dua kecerdasan tersebut, manusia kebanyakan memiliki salah satu yang menonjol. Apabila seseorang tidak memiliki satu pun yang menonjol baik kecerdasan kognitif dan non-kognitif inilah yang mesti banyak belajar. Bukan karena dia bodoh, tetapi sepanjang hidupnya jarang menggunakan otaknya. Ini perlu merefleksikan diri.

    Sobat travelers, menjadi orang besar dan cerdas dapat dipelajari dari para ulama terdahulu. Mereka yang menghabiskan hidup, selain bertawakal kepada Allah SWT, juga senantiasa mengasah pikiran dalam menyusun karya dan menyebarkan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi umat. Antara agama dan ilmu pengatahuan haruslah seimbang. Ilmu pengetahuan di dunia diperoleh melalui kecerdasan pikiran. Masing-masing ulama memiliki metode-metode yang berbeda untuk meningkatkan kecerdasan, tetapi hasil akhirnya semua sama, yakni manusia besar dan cerdas.

    Berikut metode yang diajarkan oleh para ulama besar:

1. Imam Malik

    Imam Malik adalah ulama besar yang lahir di kota Madinah pada 711 M. Beliau selalu menyedikitkan waktu tidur untuk dipergunakan belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Seorang ulama fiqh, Ibnul Qosim mengisahkan bahwa dirinya sering menemui Imam Malik sebelum fajar dan waktu sahur. Beliau tidak tidur, tetapi terus belajar.

    Dari ketekunan Imam Malik di atas, kita diharapkan tidak terlalu banyak tidur apabila ingin pikiran kita selalu cerdas. Tidurlah sejenak dan secukupnya, kemudian pergunakan waktu untuk belajar, terutama di waktu sebelum fajar.

2. Imam Syafi'i

 
    Abū Abdullāh Muhammad bin Idrīs al-Syafi'ī  atau yang sering disebut Imam Syafi'i lahir pada 150 H di Ashkelon, Gaza, Palestina. Beliau juga merupakan ulama besar. Metode beliau untuk memperoleh kecerdasan adalah dengan membagi waktu sepertiga. Jadi, dari keseluruhan waktu 24 jam/hari, Imam Syafi'i membagi sepertiga pertama untuk menulis ilmu, sepertiga kedua untuk shalat malam, dan sepertiga ketiga untuk tidur. Sehingga, Imam Syafi'i memiliki waktu tidur normal, yakni 8 jam/hari. Selebihnya, 8 jam berturut-turut dipergunakan untuk beribadah dan belajar.

3. Abu Hurairah

 
    Abu Hurairah lahir di Baha, Yaman. Metode Abu Hurairah untuk tetap memperoleh kecerdasan ilmu pengetahuan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT dengan cara membagi sepertiga waktu malam berdasarkan jumlah orang. Jadi, beliau, istri dan anaknya, masing-masing dapat menunaikan shalat malam. Selebihnya, waktunya digunakan untuk belajar.

    Itulah metode-metode yang dipakai para ulama dalam melatih dan menumbuhkan kecerdasan serta ketaqwaan kepada Allah SWT. Semoga ini menjadi inspirasi sobat travelers untuk menata kembali waktu hari-hari sobat. Sehingga, pikiran kita tetap terasah dan diberi kemudahan dalam segala hal karena mempunyai tingkat kecerdasan tertentu. Amin. 

*Disarikan dari buku "Zero to Hero" karya Solikhin Abu Izzudin.

Comments
1 Comments

1 comment:

  1. Banyak manfaat dengan sholat malam. Setelah sholat terus belajar jadi lebih konsentrasi.

    ReplyDelete